Selasa, 11 Juni 2013

Masih boikot tembakau Indonesia, Gita sebut AS tak hormati WTO


Dua tahun lalu, pemerintah berhasil memenangkan gugatan terkait kebijakan Amerika Serikat yang membatasi ekspor tembakau Tanah Air di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Namun sampai sekarang, Negeri Paman Sam itu masih mempersulit masuknya tembakau maupun produk turunannya seperti rokok Indonesia ke pasaran mereka. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyesalkan sikap Amerika itu. Dia berkukuh, keputusan WTO seharusnya mengikat dan wajib dipatuhi setiap negara anggota.
"Mereka harus mengikuti aturan WTO. Sangat disayangkan, negara maju seperti AS tidak menghormati dasar hukum yang dikeluarkan oleh WTO, yang hampir 2 tahun lalu, ini terkait dengan tembakau. Sedangkan mereka selalu mengimbau kita untuk selalu mematuhi ketentuan hukum dari sisi komoditas internasional," ujar Gita di Cilegon, Banten, Selasa (11/6).
Amerika secara tegas menutup pintu impor tembakau untuk melindungi produksi rokok dalam negeri. Berdasarkan catatan, ekspor tembakau asal Indonesia ke Negeri Adi Daya itu mencapai USD 508,800 juta pada 2008, sebelum pelaksanaan larangan impor berlaku.
Sebaliknya, Indonesia mengimpor bahan baku rokok, berupa tembakau jenis Virginia dari Amerika cukup besar. Tahun lalu, jumlahnya mencapai 2.907,17 ton senilai USD 21,43 juta.
Meski demikian, Gita tidak ingin terburu-buru membalas sikap Amerika yang diskriminatif. Dia mengatakan bakal mengedepankan dialog agar tembakau Tanah Air yang kondang sebagai bahan cerutu pilihan bisa kembali masuk pasar Amerika.
"Saya lebih merangkul semangat, ya kalau bisa kita bijaksana saja, dan ini kan jelas dudukan hukumnya seperti gimana, WTO sudah memutuskan tentang tembakau, tapi sampai hari ini belum di implementasikan oleh AS. Ini sangat menyentuh perasaan banyak orang disini, kita akan sampaikan dalam koridor apapun," ungkapnya.
Kementerian Perdagangan juga belum memikirkan sikap lanjutan, apakah bakal kembali menggugat ke Forum Internasional. Yang jelas, sesuai aturan WTO, Amerika tak boleh lagi memproteksi pasar rokok mereka.
"Setahu saya ini sudah final kemarin. Saya ingin mempelajari langkah apa yang ingin mereka ambil, tapi respon dari kita keputusan ini sudah diputuskan oleh lembaga yang semestinya kita hormati oleh seluruh komunitas internasional," tandasnya.(merdeka/11/6/13)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar